Letter to My Sister

“Kehidupanku jungkir balik, aku kehilangan duniaku yang lalu. Duniaku yang lalu tak seperti dan tak pernah terbayangkan akan seperti ini. Hidupku saat ini penuh protes, penuh tanya berjejalan di kepala, kadang menerima kemudian tak menerima. Hidupku kala lalu “biasa saja”, seperti orang lain pada umumnya. Keluarga yang lengkap, mama, bapak, kakak dan adik. Temanku banyak, kita belajar dan bermain, tertawa lepas. Bebanku kala itu kurasa tidak banyak karena aku membiarkannya mengalir saja. Hingga suatu ketika adikku tiada, begitu cepat, begitu tiba-tiba, tidak terduga. Umurnya baru saja menginjak 18 tahun. Aku tahu hati mama begitu porak poranda, begitu pula kami sekeluarga, kami tidak utuh lagi. Tiga bulan kemudian, kami mulai berbenah, menata hati. Ketika semua mulai sedikit terobati,……”

 

– Mardiah Ayu Nuraini, Maret 2014


 

Dan ketika semua mulai terobati, kau pun pada akhirnya pergi meninggalkan kami, begitu cepat. Keluarga yang sudah tidak utuh lagi, kini semakin tidak utuh setelah kepergianmu. Kurasa semua terlalu tiba-tiba, meskipun aku mengerti sakitmu cukup berat. Rasanya sulit saat ini, kau yang selalu bersamaku setiap waktu, kau harapanku satu-satunya setelah setahun yang lalu, pada akhirnya pergi juga meninggalkanku.

Dik, mbak harap engkau mengerti bahwa hidup memang seperti itu. Jungkir balik memang, karena bisa jadi mereka yang sudah berada di puncak sekalipun tiba-tiba berada di bawah.

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepada-Nya “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu.”  (QS. Yasin : 82)

 

Semoga kau telah tahu bahwa bahagiamu atau sedihmu itu hanya sementara, seperti kehidupan ini. Semuanya hanyalah sementara, termasuk ujian yang kau hadapi. Kecewamu, sedihmu, sakitmu. Pada akhirnya itu semua hanya sementara bukan, dan kini kau sudah tidak merasakannya lagi.

Semoga kau telah mengerti bahwa Allah mengujimu, menguji kita semua karena Allah sangat menyayangi kita. Dia ingin tahu seberapa besar cinta kita kepada-Nya. Kehidupanmu yang lalu mungkin baik bagimu, tapi mungkin belum cukup baik menurut-Nya. Oleh karena itu, Allah berikan sakit sebagai penggugur dosa hanya karena Allah sangat menyayangimu, Allah menginginkanmu yang lebih baik lagi, lebih kuat dan sabar, Allah menginginkanmu menjadi pribadi yang lebih mencintai-Nya. Semua itu tentu karena Allah amat sangat mencintaimu. Apa-apa yang menurut kita baik tidak selalu baik dimata-Nya, begitu pula sebaliknya.

“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”  (QS. Al-Baqarah : 216)

 

Dik, mbak yakin kemarin kau sudah menjadi pribadi yang amat sangat baik dimata Allah. Oleh karena itu Allah memanggilmu begitu cepat. Mbak tahu mengapa Allah mengambilmu secepat itu, Allah sangat mencintaimu. Dia amat sangat merindukanmu. Kurasa kau berhasil menghadapi ujian barumu, ujian yang awalnya kau takuti, namun pada akhirnya kau bisa melaluinya dengan amat sangat baik.

Terima kasih, mbak amat sangat bangga pernah memilikimu. Selamat memeluk Allah. Semoga kita dipertemukan kembali di Surga-Nya kelak. Aamiin  :)

 

 

 

 

Tagged , , , , , , ,

2 thoughts on “Letter to My Sister

  1. Efenerr says:

    Indah dan penuh haru catatannya mbak. :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: